Tampilkan postingan dengan label venous ulcer. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label venous ulcer. Tampilkan semua postingan

Senin, 05 April 2010

JOURNAL REVIEW; Cost Of Healing Pressure Ulcer

Xakellis, George C.; Frantz, Rita

Abstract

The reported costs of treating pressure ulcers have varied widely from study to study. Previous studies have focused on single health care settings and computed only the costs occurring while the patient was a resident in that facility. The purpose of this study was to assess the cost of managing pressure ulcers from their initial occurrence in long-term care through their natural history, including hospital treatment ot complications. The 30 patients in this year-long study developed 45 ulcers. The mean length ot treatment for an ulcer was 116 days (SD = 127). The mean cost ot treatment, including long-term care and hospital costs, was $2.731 per ulcer (SD = 12.184); excluding hospital costs, the mean cost of treatment was $489 per ulcer (SD = 629). The mean cost of treatment per patient was $4,647 (SD = 15,102); excluding hospital costs, the mean treatment cost was $1,284 per patient (SD = 1,380). Eighty percent of the total cost of pressure ulcer treatment was generated by the 4% of patients who required hospitalization lor their pressure ulcers. In the absence of complications, pressure ulcers can be treated successfully and cost-effectively in long-term care.read more

JOURNAL REVIEW; Cost Of Pressure Ulcer Prevention in Long Term care

John Deere Health Care, Moline, Illinois 61265, USA.
OBJECTIVE: To describe the total cost of pressure ulcer prevention, component costs of each intervention, and the relationship of costs to subjects' risk level. DESIGN: 3-month cohort trial. SETTING: A 600-bed, state-supported, long-term care facility. PATIENTS: A total of 539 war veterans, 83% of whom were male; mean age was 73 years. MAIN OUTCOME MEASURES: Cost to facility for using each of four preventive interventions: turning, pressure-reducing mattresses, chair cushions, miscellaneous preventive devices. RESULTS: Sixty-eight percent of subjects received a preventive intervention. Total 3-month facility cost of prevention was $132,114, and 97% of the cost was consumed by 30% of the subjects. Turning was the most expensive component, accounting for $99,567. The daily cost of turning for subjects who received it was $8.83 +/- 1.66. Cost increased with subject risk level. Low cost devices were instituted for lower risk subjects, whereas high cost interventions (turning) were reserved for the highest risk subjects. CONCLUSIONS: This long-term care facility expended substantial resources on prevention, and most resources (97%) were expended on less than half (30%) of subjects. Turning was, by far, the most expensive intervention, and the nursing staff reserved it for highest risk subjects. Strategies that substitute moderately priced mattresses for frequent turning may decrease the cost of prevention, as long as mattress cost is less than the daily turning costs it replaces. Future research to define the optimum combinations of preventive interventions for patients of various risk levels is needed. read more

Senin, 29 Maret 2010

MODALITAS PENANGANAN VENOUS ULCER

Saldy Yusuf, S.Kep.Ns.ETN

Strategi utama dalam penatalaksanaan Insufisiensi Vena dan Hypertensi Vena (sebagai penyebab utama venous ulcer) adalah:

1.Terapi Kompressi (Compression Therapy).

Terapi kompresi merupakan suatu modalitas yang bertujuan untuk memberikan tekanan eksternal pada ekstrimitas bawah untuk memfasilitasi aliran balik vena. Modalitas ini telah digunakan sejak abad ke 17 (dalam bentuk stocking tali yang keras). Pada abad ke 21 terapi kompressi measih menjadi pilihan utama dalam manajemen venous ulcer (Cullum, et al 2003; Kantor and Margolis, 2003). Dan dapat pula diaplikasikan pada LEVD yang disertai dengan dermatitis akut dan cellulitis (WOCN Society, 2005a).

Mekanisme kerja terapi kompressi pada dasarnya adalah memberikan tekanan dari mata kaki ke lutut dan memberikan tekanan untuk mensuport calf muscle pump saat ambulasi dan dorsofleksi. Oleh karena itu terapi ini meningkatkan aliran balik vena. Sebagai tambahan terapi kompresi memberikan tekanan pada jaringan superficial sehingga meningkatkan tekanan interstisial sehingga mencegah kebocoran plasma yang pada akhirnya akan mengurangi edema.
Besar tekanan atau Level of Compression yang diberikan merupakan factor penting dalam terapi. Besar tekanan merupakan jumlah tekanan yang diberikan terhadap jaringan. Umumnya besar tekanan berkisar antara 20-60 mmHg pada mata kaki.

Tekanan sebesar 30-40 mmHg pada mata kaki biasa digunakan untuk venous ulcer. Tekanan sebesar ini dilaporkan efektif dalam mengontrol hypertensi vena dan mencegah pembentukan edema tungkai pada kebanyakan pasien dengan venous disease (de Arujo et al, 2003; Kunimot, 2001b; Paquette and Falanga, 2002; Phillips, 200).

2. Peninggian tungkai (Limb elevation).

Peninggian tungkai merupakan prosedur yang sangat sederhana namun sangat efektif dalam meningkatkan aliran balik vena dengan memanfaatkan gaya gravitasi. Modalitas ini sangat penting bagi pasien dengan venous ulcer bahkan esensisal bagi pasien dengan venous ulcer yang tidak dapat mentoleransi terapi kompressi. Pasien sebaiknya dianjurkan untuk meninggikan kakinya (lebih tinggi dari jantung) selama 1-2 jam, dua kali sehari (lebh baik sebelum tidur).

Selanjutnya pasien juga dianjurkan untuk menghindari berdiri lama atau duduk lama dengan posisi kaki menggantung (dependent). Bila harus berdiri atau duduk lama, maka sebaiknya disertai dengan “jalan-jalan ringan”. Untuk memastikan pasien melaksanakan modalitas ini dapat dibuatkan ‘leg-up chart’ dan dievaluasi setiap kunjungan (Kunimot, 2001b; Wipke-Tevis and Sae-Sia, 2004).

3. Prosedur Pembedahan (Surgical Procedure).

Intervensi pembedahan menjadi pilihan manakala pasien mengalami lipodermatosclerosis secara signifikan atau venous ulcer yang menetap atau berulang dengan kondisi patologi adanya incompetensi katup-katup vena. Namun menurut Anwar 2003 (bukan tetangga saya lho…) intervensi pembedahan menjadi kurang bermakna apabila telah terjadi obstruksi aliran balik ecara signifikan sebagai akibat dari syndrome postthrombotic.

Minggu, 28 Maret 2010

JOURNAL REVIEW; Venous leg ulcers | Journal of Wound Care

Practitioners must respond appropriately to venous leg ulcers to promote healing and prevent complications.

Venous leg ulcers (VLUs) are the most frequently occurring type of chronic wound, accounting for approximately 80-90 per cent of all lower extremity ulcers. VLUs are a big problem for both patients and health service resources. In the United Kingdom, venous leg ulceration alone has been estimated to cost the NHS £400m a year. In the US, VLUs cause the loss of approximately two million work days per year. A thorough understanding of effective and best practice venous leg ulcer management is therefore imperative for all professionals working in wound care practice. read more

EPIDEMIOLOGI VENOUS ULCER

Saldy Yusuf, S.Kep.Ns.ETN
Angka prevalensi venous ulcer masih belum diketahui, namun angka prevalensi venous ulcer di Negara berkembang diperkirakan antara <1%->3% dari populasi (Kerstein, 2003; Philips, 2001). Puncak insidens venous ulcer antara usia 60-80 tahun (de Arujo et al, 2003;Paquette and Falanga, 2002; Philips, 2001;Weingarten, 2001), dan banyak penelitian melaporkan resiko tinggi pada wanita (de Arujo et al, 2003;Kalra and Glovicki, 2003; Paquette and Falanga, 2002).

Di Amerika Serikat LEVD mengenai hamper 6-7 juta individu, dan sekitar 1 juta diantaranya mengalami ulserasi (WOCN Society 2005; Valencia et al, 2001). Implikasi dari venous ulcer sangat menakutkan, dimana pasien dengan venous ulcer sering mengalami nyeri, gatal, kesemasan, isolasi social, dan penurunan pergerakan, serta gangguan pemenuhan aktifitas harian (de Arujo et al, 2003; ryan, eager, and Sibbald, 2003; Weingarten, 2001).

Venous insufisiensi dan Venous Ulcer juga memiliki dampak ekonomi, dimana rata-rata biaya perawatan dapat melebih dari $ 40.000. Dan total biaya untuk perawatan LEVD di USA diperkirakan lebih dari $ 1 Milyar per tahun (WOCN Society, 2005a; Simka and Majewski, 2003; Valencia et al, 2001; Weingarten, 2001). Dampak negatif lain dari venous ulcer, yaitu tingginya angka kekambuhan sebesar 57%-97%, yan gmerefleksikan status kronis terhadap kondisi yang menyertai. Salah satu penyebab tingginya angka kekambuhan yaitu kegagalan dalam mengatasi masalah utama yaitu insufisiensi vena dan hypertensi vena (WOCN Society, 2005a; Paquette and Falanga, 2002).

Bagaimana dengan Prevalensi dan Insidens di Indonesia? Bagaimana dengan dampak sosial ekonomi? Atau bagaimana dengan psikis pasien? Ada yang mau meneliti???....

Rabu, 13 Januari 2010

PRINSIP PERAWATAN LUKA DECUBITUS, mengapa Ash Habul Kahfi Tidak Decubitus

Saldy Yusuf, S.Kep.Ns,ETN

Masalah Pressure ulcer atau lebih dikenal dengan Luka Decubitus merupakan masalah global. Kejadian decubitus tidak hanya di negara-negara maju tapi juga di negara-negara berkembang. Lebih lanjut decubitus tidak hanya terjadi di unit perawatan yang ada di rumah sakit, tapi juga di home care setting, termasuk di panti jompo.

Pressure atau tekanan merupakan penyebab utama terjadinya luka decubitus. Adanya tekanan, terutama pada daerah penonjolan tulang (bony prominences)dengan intensitas dan durasi yang lama akan menyebabkan disrupsi aliran darah.

Tekanan pada pembuluh darah sebesar lebih dari 32 mmHg diyakini akan menyebabkan terhentinya aliran darah setempat.Apabila ini berlangsung lama, hal ini dapat menyebabkan insufisiensi aliran darah, anoksia atau iskemi jaringan dan akhirnya dapat mengakibatkan kematian sel.

Oleh karena itu salah satu prinsip pencegahan luka decubitus sekaligus prinsip perawatan luka decubitus adalah mobilisasi.

Dalam studi literatur yang terdapat dalam kitab suci Al-Qur’an terdapat kisah tentang 7 pemuda yang tidur selama 350 tahun yang dikenal sebagai Ash Habul Kahfi. Secara logika dengan durasi waktu tidur yang sangat panjang mereka akan mengalami decubitus, namun ternyata Allah SWT menunjukkan kebesaran-NYa. Tak satupun Ashabul Kahfi mengalami decubitus. Sebab Allah SWT telah membolak-balikkan mereka seperti dalam firman-Nya:

“Dan kamu mengira mereka itu bangun,padahal mereka tidur; Dan kami balik-balikkan mereka ke kanan dan kekiri, sedang anjing mereka mengunjurkan kedua lengannya di muka pintu gua. Dan jika kamu menyaksikan mereka tentulah kamu akan berpaling dari mereka dengan melarikan diri dan tentulah (hati) kamu akan dipenuhi oleh ketakutan terhadap mereka” (Al-Qur’an:18(18))

Jadi prinsip perawatan luka decubitus sekaligus prinsip pencegahan  adalah PERUBAHAN POSISI.

Maha Benar Allah dengan segala firman-Nya.

Minggu, 10 Januari 2010

PROGRAM PENCEGAHAN DECUBITUS melalui GERAKAN NASIONAL STOP DECUBITUS

Saldy Yusuf, S.Kep.Ns.ETN


LATAR BELAKANG
Decubitus merupakan silence epidemiology. Berdasarkan sebuah studi, insidens kejadian decubitus di Indonesia cukup tinggi yaitu 33.3% (Suriadi, 2006), ironisnya angka inipun tertinggi bila dibandingkan dengan Negara-negara yang ada di ASEAN. Masalah decubitus bukan hanya masalah pada lukanya, dampak terhadap kualitas hidup (quality of life) seperti nyeri, bau yang tidak nyaman, gangguan istirahat, gangguan interaksi social, gangguan peran dll menjadi aspek yang kadang terabaikan. Pada tatanan supra systempun, masalah decubitus bukan hanya masalah adanya luka pada pasien, tapi berdampak pada length of stay yang berdampak pada penurunan BOR Rumah Sakit.Hingga saat ini kita belum pernah mendengar adanya program pencegahan decubitus baik bersifat lokal maupun nasional.

Sayangnya belum ada penelitian di Indonesia tentang cost atau biaya yang dikeluarkan dalam perawatan luka decubitus, baik biaya langsung maupun biaya tidak langsung. Sebagai gambaran di Belanda biaya perawatan decubitus $ 362 million- $ 2,8 billion dan potensial menyerap 1 % dari total biaya kesehatan nasional (Severens, et al 2002) sedangkan Di UK biaya perawatan decubitus mencapai 1.4 billion-2.1 billion per tahun dan menyerap 4 % dari total biaya kesehatan nasional (Bennet, et all 2004).

Bahkan di Amerika Serikat dan Inggris decubitus sudah dianggap sebagai Nursing Negligence (kelalaian perawat) sehingga seorang pasien (atau keluarga) bisa menggugat ke pengadilan manakala dalam perawatan pasien menderita decubitus (sebagai infeksi nosokomial). Lantas apakah decubitus merupakan tanggung jawab penuh seorang perawat? Tidak, decubitus merupakan masalah bagaimana bentuk pelayanan itu diberikan dan bagaimana pelayanan itu diterima oleh pasien.

Ironisnya, ternyata 95 % decubitus dapat dicegah, literature lain bahkan menunjukkan pencegahan yang baik dapat menurunkan kerusakan integritas kulit termasuk luka decubitus yang pada akhirnya akan memberikan kenyamanan emosional bagi pasien, keluarga, dan pemberi asuhan. Oleh karena itu pencegahan decubitus menjadi kunci utama dalam manajemen luka decubitus. Perawatan kulit yang baik akan memberikan dampak positif pada pasien, termasuk moral, harga diri, dan kemungkinan terjadinya nyeri dan infeksi. Keluarga juga harus dilibatkan dalam perencanaan asuhan keperawatan sehingga merasa turut bertanggung jawab dalam setiap program edukasi yang diberikan.

Ada korelasi yang jelas antara policy (kebijakan) Rumah Sakit dengan kejadian decubitus. Contoh yang umum di beberapa rumah sakit menggunakan kasur yang dilapisi dengan perlak (terpal) plastick, dengan maksud mencegah agar urine, feses, eksudat, dari pasien tidak tembus di kasur, namun disisi lain perlak (terpal) plastic justru meningkatkan evaporasi pada kulit pasien yang berdampak meningkatnya kelembaban kulit, kalau sudah begini decubitus akan dating. Ironis, pelayanan rumah sakit kok berorientasi ingin menyelamatkan tempat tidur bukan berorientasi ke kenyamanan dan keselamatan pasien!!!

TUJUAN GERAKAN NASIONAL STOP DECUBITUS
1. Meningkatkan kualitas Asuhan Keperawatan.
2. Mengurangi biaya dan lama perawatan.
3. Melindungi perawat dari kelalaian dan malpraktek.
4. Meningkatkan kepuasan pasien.

BENTUK GERAKAN
Baik intstitusi pelayanan dan institusi pendidikan dapat mengambil bagian dalam “Gerakan Nasional Stop Decubitus”. sebagai program pencegahan decubitus yang terintegrasi dan terpadu. Contoh perawat yang bekerja di institusi pendidikan keperawatan yang dapat dilakukan antara lain:
1. Memasukkan pokok bahasan “Pengkajian Decubitus” dalam mata kuliah Kebutuhan Dasar Manusia.
2. Memasukkan pokok bawahan “Asuhan Keperawatan Decubitus” pada mata kuliah Keperawatan Medikal Bedah.
3. Menjadikan “Decubitus” sebagai variable dalam penelitian.
4. Memilih “Decubitus” sebagi tema dalam kegiatan Seminar Nasional, Lokakarya,Workshop.
5. Mengembangkan kegiatan Pendidikan Keperawata Berkelanjutan dengan tema sentra “Decubitus”.

Contoh peran perawat yang bekerja di institusi pelayanan yang dapat dilakukan dalam Gerakan Nasional ini, antara lain:
1. Pencegahan decubitus melalui deteksi dini resiko decubitus dengan menggunakan Braden Scale di bangsal atau Suriadi Sanada Scale (SS Scale ) di ruang ICU.
2. Melakukan dokumentasi dalam perawatan luka decubitus.
3. Menyusun standar Asuhan Perawatan Decubitus.
4. Mengkampanyekan “Bangsal Bebas Decubitus” hingga “Rumah Sakit Bebas Decubitus”.
5. Melaksanakan in house training untuk mengupgrade pengetahuan dan keterampilan perawat dalam perawatan decubitus.

Sebagai penutup Gerakan Nasional Stop Decubitus merupakan gerakan moril dalam menjamin pemberian Asuhan Keperawatan yang bermutu tinggi sebagai wujud tanggung jawab terhadap profesi dan masyarakat Indonesia. Masalah decubitus bukanlah persoalan luka semata, akan tetapi mencerminkan bagaimana bentuk pelayanan diberikan oleh perawat dan diterima oleh pasien.

Oleh karena itu perlu usaha dan upaya sistematis dalam pencegahan decubitus di bumi pertiwi, kita buktikan bahwa PERAWAT bisa memberikan konstribusi dalam mewujudkan INDONESIA SEHAT 2010. Untuk itu menghadapi momentum tahun baru 2010, disaat yang lain merayakan dengan membakar petasan, kita bakar semangat dan kebersamaan kita untuk mengkampanyekan “GERAKAN NASIONAL STOP DECUBITUS” deteksi sebelum terjadi, kenapa tidak! ayo bergabung, ambil bagian atau jadi penonton.

Jumat, 08 Januari 2010

SAMBUTAN PRESIDENT InETNA DALAM RANGKA PENCANANGAN GERAKAN NASIONAL STOP DECUBITUS TAHUN 2010

Sebentar lagi kita akan jelang tahun 2010 yang semoga di tahun yang baru ini semangat untuk tetap memberikan pelayanan terbaik bagi pasien-pasien kita, bagi masyarakat luas…..akan lebih besar lagi.
Saya Ani Maryani , MKep, ETN ketua InETNA (Indonesian Enterostomal therapist Nurse Association) suatu organisasi yang begerak di bidang Stoma, Luka dan inkontinensia ingin mengajak sejawat untuk bersama-sama meningkatkan semangat untuk memberikan yang terbaik. Semangat ini hendaknya kita mulai dari hal-hal yang tampak didepan mata kita sehari-hari, menjaga pasien-pasien kita dari komplikasi akibat imobilisasi contohnya. Salah satu hal kecil tetapi membawa dampak besar adalah mencegah pasien dari decubitus.
MENGAPA DEKUBITUS???? Pertanyaan yang sangat menarik, karena dekubitus sering dijadikan salah satu indicator mutu pelayanan suatu rumah sakit. Angka dekubitus tinggi, berarti pelayanan dianggap tidak bermutu demikian sebaliknya. Perawat berada 24 jam bersama pasien di rumah sakit dan dibeberapa tatanan rawat inap lainnya, sehingga menjadi profesi yang terlama berada dekat dengan pasiennya. Perawat sering menjadi orang yang paling bertanggung jawab atas kejadian dekubitus, karena sebenarnya perawat dapat mencegah kejadian dekubitus atau paling tidak menurunkan angka kejadian dekubitus karena kepeduliannya.
Mencegah kejadian dekubitus berarti telah mencegah pasien dari kerugian dan membantu mereka menurunkan lama hari rawat, menurunkan biaya RS, dan mencegah dari kemungkinan mengalami kerugian yang lebih besar, untuk itu perawat hendaknya meningkatkan kepeduliannya.
Peduli untuk mengkaji resiko terjadi dekubitus, peduli untuk mengubah posisi, peduli untuk menciptakan lingkungan yang aman bagi pasien sehingga terhindar dari resiko terjadi dekubitus dan sekian banyak kepedulian yang dapat dilakukan oleh perawat untuk mencegah dekubitus. Karena sebagai profesi mereka memiliki kemampuan itu,
Di awal tahun 2010 ini mari kita mulai dengan satu kata, satu hati untuK bersama-sama BERTERIAK dan MENUNJUKKAN KOMITMEN YANG TINGGI MELALUI KINERJA SEPENUH HATI untuk STOP DEKUBITUS!!!!!
Begitu banyak harapan yang dapat kita raih ditahun 2010, semoga harapan itu dapat benar-benar kita capai, termasuk terwujudnya UU KEPERAWATAN YANG SAAT INI MASIH MENUNGGU SAAT-SAAT PENGESAHANNYA…..

SAHABATKU, SELAMAT TAHUN BARU 2010……

SALAM SEJAWAT

ANI MARYANI, MKep, ETN
Presiden InETNA