Tampilkan postingan dengan label colosotmy. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label colosotmy. Tampilkan semua postingan

Rabu, 01 September 2010

TEN COMMANDMENTS FOR THE NEW OSTOMATE

 By: Anita Prices
  1. There is no answer for "Why Me?", but it is normal to ask the question and you need to work through the answer to this and other questions.
  2. Stomas change in size and shape the first few months after surgery. The initial swelling of your stoma will decrease and its diameter will decrease. Check the size of your stoma with a measuring guide every pouch change, until it stabilizes to its permanent size.
  3. Each person's ostomy is different even as our own fingerprints are different.
  4. Support and information from someone who has an ostomy can be helpful. Ask your doctor or E.T. nurse to arrange for an ostomy visitor.
  5. It is your ostomy. Learn to manage your ostomy and don't let your ostomy manage you! It is normal in the beginning for your ostomy to be the center of your existence; however, with time and practice, your ostomy and its care will become just a normal part of your daily life.
  6. Fundamental management techniques can be learned, and new experiences and any problems that may develop must be met and managed as they occur. As you learn and practice these new skills, you will become comfortable with your ostomy care. Do not confuse accidental leakage or spillage with what is normal or to be expected. If you have problems, consult your E.T.
  7. One of the most important goals for healthy living is good nutrition. The one difference in having an ostomy and setting your nutritional goals is that you need to take information provided for the general public and adapt it to your own needs, keeping ostomy management in mind.
  8. You are not alone! Surgeons make at least 500 ostomies every working day. One out of every 200 persons has an ostomy and over two million of us make up almost 1% of the US population. Support organizations are available to help you. There are over 1700 Enterostomal Therapists in the US and Canada and the United Ostomy Association has over 600 US chapters.
  9. You're alive! You will get better and stronger as you recuperate from surgery. Give yourself time to get over ostomy surgery and to adjust to this body change and adapt to your ostomy.
  10. Share what you have learned with another new ostomate, with your family and friends and others. It is up to you who you tell you have an ostomy. As you grow accustomed to living with an ostomy, there will be opportunities to help others along the way. Remember your own experiences and the fear of the unknown and the helplessness until you met another who had traveled along the same road as you. 

Rabu, 18 Agustus 2010

KANTONG GULA PASIR MURAH TAPI MENYAKITKAN

Saldy Yusuf, S.Kep.Ns.ETN

Sekotor dan sebau apapun toilet, masih merupakan tempat paling nyaman untuk buang hajat. Terserah bagaimana modelnya, cemplung, jongkok atau duduk yang penting privasi terjaga.

Namun ada beberapa kondisi medis (paling umum adalah Kanker Usus Besar) yang mengharuskan pasien menjalani operasi pembuatan anus buatan pada dinding abdomen. Stoma begitulah kita mengenalnya, stoma berarti mulut karena secara anatomis berbentuk orificium yang berasal dari lapisan mukosa usus kemudian dijahit keluar ke dinding abdomen (mucocutaneus junction). 

Apabila stoma tersebut berasal dari colon maka disebut colostomy, bila dari ileum disebut ileostomy dan bila dari ureter disebut ureterostomy sedangkan pasiennya disebut ostomate. Di Indonesia Ostomate berasal dari berbagai kalangan, mulai dari wartawan, pramugari, bupati hingga gubernur 

Sayangnya di Indonesia operasi konstruksi stoma tidak dibarengi dengan persiapan pre operasi dan post operasi yang adekuat yang memungkinan pasien dapat berpartisipasi dalam penentuan lokasi stoma (stoma sitting), memilih kantong stoma yang tepat, memahami implikasi fisiologis pasca operasi stoma, mendapat support psikologis pasca stoma, dipertemukan dengan support system yang ada (ostomate association) dan diperkenalkan dengan ET Nurse yang bisa dihubungi (hak ostomate).

Penggunaan kantong gula pasir plus plester seakan menjadi pilihan pertama bagi pasien post operasi konstruksi stoma, bahkan seolah-olah sudah menjadi protokol tetap pasca operasi. Murah menjadi legitimasi penggunaan kantong gula pasir sebagai pengganti colostomy bag. Padahal penggunaan kantong gula pasir sebagai kantong stoma sangat tidak fungsional bahkan tidak manusiawi.
Kantong stoma yang baik setidaknya harus memenuhi unsur:
  1. Dapat menampung feses.
  2. Dapat mengontrol bau.
  3. Melindungi kulit sekitar stoma.
  4. Mudah dipasang dan dilepas tanpa bantuan.
  5. Mempertimbangkan aspek estetika.




Resiko pertama dan yang paling sering terjadai adalah kebocoran. Kebocoran mengakibatkan kulit sekitar stoma yang sehat terkontaminasi oleh feses dan cairan usus. Cairan usus yang kaya akan enzim-enzim pencernaan akan mencerna lapisan epidermis. akibatnya erythema, maserasi, hingga ulcerasi. Yang kedua adalah tingginya frekuensi penggantian kantong, sebab plester yang digunakan tidak didesain untuk bisa menahan beban feses. Ketiga adalah masalah estetika dan kenyamanan bagi pasien terutama saat berinteraksi dengan orang lain.

Sudah saatnya kita mengambil bagian sebagai advokator bagi pasien, setidaknya pasien diberi alternatif jenis kantong yang tepat digunakan sebagai pengganti toilet yang nyaman.

Selasa, 09 Februari 2010

LAUNCHING INOA MAKASSAR

Saldy Yusuf, S.Kep,Ns.ETN

Hari jum’at tanggal 29 Januari 2010 bagi kita mungkin sama seperti hari-hari sebelumnya, namun bagi ostomate (orang yang hidup dengan stoma) merupakan sebuah hari bersejarah. Bertempat di Sekretariat Bagian Bedah Digestif RSUP. Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar dilaksanakan pelantikan pengurus ‘Indonesian Ostomate Association (InOA) Cabang Makassar”. Pelantikan dihadiri langsung oleh dr. Dieta Parengkuan, dr. Utari, dan Suster Dwi Heni dari Yayasan Kanker Indonesia.
Dalam sambutannya, dr. Dieta mengatakan bahwa saat ini data ostomate yang ada di Indonesia masih simpang siur, walaupun pihak Yayasan Kanker Indonesia telah melakukan persuratan ke seluruh Rumah Sakit yang ada di Indonesia, namun ternyata hanya 3 rumah sakit yang memberikan data ostomate. Hal menjadi tantangan bagi pengurus InOA Cabang Makassar. Lebih lanjut dr. Dieta mengatakan bahwa kekuatan ostomate merupakan hal yang tidak boleh diabaikan. Ostomate dapat menjadi “konsultan” yang paling ampuh bagi calon ostomate lainnya yang akan menghadapi operasi stoma. Oleh karena itu dalam persiapan pre operasi sebaiknya ostomate dilibatkan sebagai role model yang tentunya akan memberi inspirasi dan motivasi bagi calon-calon ostomate lainnya.

Data base ostomate menjadi hal yang penting dan mutlak untuk ditindak lanjuti oleh karena itu pendataan ostomate menjadi tugas pertama yang harus direalisasikan oleh Pengurus terpilih, ujar Dr. Ronald. Lebih lanjut, dr. Ronald mengatakan Cancer Colon merupakan penyebab utama yang paling bertanggung jawab terhadap tidak berfungsinya anus. Saat ini terjadi tren pergeseran insidens cancer colon. Decade tahun 1980 cancer colon hanya pada usia 60 tahun keatas, decade tahun 1990 pada usia 40 tahun keatas, dan decade tahun 2004 sudah ditemukan di bawah usia 40 tahun.

Hidup dengan stoma memang bukan pilihan, namun dengan kondisi klinis yang tidak memungkinkan lagi evakuasi feses melalui anus, maka stoma menjadi satu-satunya pilihan terbaik yang berfungsi sebagai “artificial anus”. Hidup dengan “anus baru” di abdomen tentunya memberikan perubahan besar dalam kehidupan seorang ostomate, tidak hanya perubahan fisik, namun juga psikis, social, bahkan spiritual.

Bagaimana dengan pola makan saya? Bagaimana saya melakukan hubungan suami-isteri? Bagaimana cara saya menghadiri resepsi pernikahan? Bagaimana saya shalat? Adalah sebagian kecil contoh pertanyaan-pertanyaan yang ada di benak ostomate, dan nobody can answer it.

STRUKTUR ORGANISASI Indonesian Ostomate Association (InOA) Cabang Makassar.
Struktur Organisasi InOA Cabang Makassar berdasarkan Surat Keputusan Perhimpunan Bedah Digestif Indonesia (IKABDI) Cabang Makassar No: 03/IKABDI-CAB/MKS/I/2010.

PEMBINA : Yayasan Kanker Indonesia (YKI).
PELINDUNG : Direktur RSUP. Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar.
Ketua IKABDI
KETUA : Dr. Asmaun Nadjamuddin, Sp.RM
WAKIL KETUA : Dr. Ronald E. Lusikooy, SpB-KBD
SEKRETARIS : Dr. Warsinggih, SpB-KBD
PROFESSIONAL : Dr. Murny A. Rauf, SpB-KBD.
Dr. Sulaihi, SpB-KBD
Dr. Ibrahim Labeda, SpB-KBD
Dr. Mappincara, SpB-KBD
Ns. Alimuddin, S.Kep.ETN
Ns. Muhammad Saleh, S.Kep.ETN
Ns. Saldy Yusuf, S.Kep. ETN
OSTOMATE : Sabaruddin
Ibu Nelly
Ibu Maghfirah

Terbentuknya InOA Cabang Makassar juga memberi bukti bahwa dokter (bedah digestif) dan perawat (ET Nurse) dapat berkolaborasi secara harmonis dalam konteks peningkatan derajat kesehatan masyarakat.
Semoga keberadaan InOA Cabang Makassar dapat memberikan konstibusi positif dalam rangka peningkatan “Quality of Life” ostomate di kota Makassar pada khususnya dan di Indonesia Timur pada umumnya.