Kamis, 11 Desember 2008

WOUND DRESSING

Saat ini berbagai jenis balutan luka tersedia, balutan luka atau wound dressing berfungsi sebagai baju pengganti manakala tubuh kehilangan baju naturalnya. Luka menyebabkan tubuh kehilangan “baju “ pelindung. Ya...kulit ibaratnya baju yang melindungi tubuh dari paparan fisik, mekanik, biologis, hingga kimiawai yang berpotensi untuk menimbulkan kerusakan lebih lanjut. Luka menyebabkan desintegrasi dan discontuinitas dari jaringan kulit. Sebagai akibatnya fungsi kulit dalam memproteksi jaringan yang ada di bawahnya menjadi terganggu.
Oleh karena itu tujuan utama dari balutan luka (wound dresssing) adalah menciptakan lingkungan yang kondusif dalam mendukung proses penyembuhan luka. Seperti baju yang memiliki ukuran, corak, dan warna, balutan luka (wound dressing) bersifat individual bergantung pada karakteristik dari luka itu sendiri.


Mengapa luka harus dibalut?
· Untuk menciptakan lingkungan yang mendukung penyembuhan.
· Mendukung rasa nyaman bagi pasien.
· Untuk melindungi luka dan kulit sekitarnya.
· Untuk mengurangi nyeri.
· Mempertahankan temperatur luka.
· Mengontrol dan mencegah perdarahan.
· Mengontrol dan mencegah bau.
· Menampung eksudat.
· Untuk mencegah pergerakan pada bagian tubuh yang cedera.
· Memberikan ‘compressi’ pada perdarahan atau statis vena.
· Mencegah dan mengatasi infeksi pada luka.
· Mengurangi penderitaan bagi klien.

JENIS-JENIS BALUTAN LUKA
1.Natural Fibre Dry Dressing
Pembalut luka ini terbuat dari kapas, kasa, atau kombinasi keduanya. Kasa sudah lama dikenal oleh semua tenaga kesehatan sebagai balutan sejak lama. ekonomis membuat kasa menjadi primadona, namun akhir-akhir ini ratingnya mulai menurun tergantikan oleh modern dressing.


2.Semipermeable Film Dressing
Dilapisi dengan bahan perekat, tipis, tranparan, menngandung polyurethane film. Permeabel terhadap gas, tapi impermeabel terhadap cairan dan bakteri, mendukung kelembaban termasuk pada ‘nerve endings’ sehingga mengurangi nyeri, dan yang paling penting adalah memudahkan inspeksi pada luka.


3.Foam Dressing
Mengandung Polyurethane foam, tersedia dalam kemasan sheets (lembaran) atau ‘cavity filling’. Dressing ini sangat cocok digunakan pada luka dengan ‘severe’ hingga ‘high eksudat’.


4.Hydrocolloids
Balutan ini mengandung partikel hydroactive (hydrophilic) yang terikat dalam polymer hydrophobic. Partikel hydrophilic-nya mengabsorbsi kelebihan kelembaban pada luka dan menkonversikannya ke dalam bentuk gel. Hydrogel dapat bertahan 5-7 hari bergantung karakter eksudat.


5.Hydrogels
Salah satu contoh colloid yang berbahan dasar gliserin atau air mengembang dalam air (exudat luka). Mirip dengan hydrocolloid tapi dalam bentuk gel.


6.Calcium Alginate
Terbuat dari polysakarida rumput laut (seawed polysacharida), dapat menghentikan perdarahan minor pada luka, tidak lengket, menyerap eksudat dan berubah menjadi gel bila kontak dengan cairan tubuh.


7.Hidrofobik
Terbuat dari katun yang mengandung bahan aktif dialcylcarbamoil chloride yang bersifat hidrofobik kuat. Sifat ini sama dengan karakteristik bakteri sehingga diharapkan dapat terjadi ikatan secara fisika dan dengan pergantian dressing, bakteri yang ada di permukaan luka juga terangkat.


8.Hydrofiber
Terbuat dari serat carboxymethylcellulose (CMC) yang mampu menyerap banyak eksudat dan berubah menjadi gel sehingga tidak menimbulkan trauma jaringan saat pergantian balutan.


9.Silver Dressing
Silver dressing cocok digunakan untuk luka kronis yang tak kunjung sembuh. Memiliki kemampuan dalam mengendalikan kolonisasi bakteri pada permukaan luka sehingga mempercepat reephitelisasi hingga 40 % dibanding penggunaan cairan antibiotik.

BALUTAN LUKA YANG IDEAL
Keryln Carville dalam bukunya ‘Wound Care Manual’ menetapkan 15 kriteria Balutan luka yang idela, yaitu:
1. Mengeluarkan kelebihan eksudat.
2. Mempertahankan kelembaban dalam penyembuhan luka.
3. Memungkinkan pertukaran gas.
4. Mendukung isolasi thermal dari luka.
5. Sebagai barrier terhadap kuman patogen.
6. Mencegah infeksi.
7. Tidak meninggalkan serat atau substansi toksis bagi penyembuhan luka.
8. Tidak menimbulkan sensitifitas atau reaksi alergi.
9. Pelindung dari trauma mekanik seperti tekanan, tarikan atau gesekan.
10. Mudah dilepaskan tapi tidak menimbulkan trauma jaringan.
11. Mudah di aplikasikan.
12. Nyaman digunakan.
13. Mengikuti contour tubuh.
14. Tidak mengganggu fungsi tubuh.
15. Cost effective.

Peran perawat sebagai ‘clien advocator’ sangat dibutuhkan dalam menimbang, memilih, hingga akhirnya memutuskan dressing apa yang cocok untuk karakteristik luka pasien. Dressing ibaratnya software, hardwarenya adalah anda sebagi perawat. ‘Wound dressing is art of nursing science, depends of how we think the colour of wound and use dressing as the painbrush” (Saldy Yusuf, 2008).

Tidak ada komentar: