Sabtu, 25 Desember 2010

PERUBAHAN POSISI UNTUK MENCEGAH DECUBITUS


Reposisi merupakan modalitas penting dalam pencegahan decubitus. Dalam kondis normal ketidaknyamanan dan rasa nyeri menstimulasi individu untuk melakukan perubahan posisi. Namun dalam beberapa kondisi medis individu bisa merasakan ketidaknyaman dan sensasi nyeri tersebut tapi tidak mampu melakukan perubahan posisi secara mandiri. Kegagalan dalam melakukan perubahan posisi berdampak pada memanjangnya durasi tekanan terhadap jaringan yang mengarah pada ischemic dan berakhir pada nekrosis jaringan.

Menurut EPUAP-NPUAP 2009 tujuan utama reposisi adalah mendistribusikan tekanan baik dalam posisi duduk atau berbaring serta memberikan kenyamanan pada pasien. Namun menurut hemat penulis sebenarnya tujuan ini kurang tepat. Ketika pasien berbaring dalam posisi supinasi maka tekanan terbesar berada pada daerah sacrum, kemudian ketika kita melakukan reposisi, misalnya pasien dimiringkan ke lateral kanan maka sebenarnya kita tidak mendistribusikan tekanan tapi memindahkan tekanan dari daerah sacrum ke daerah trochanter kanan.

Kalau begitu apa tujuan perubahan posisi?
Ada banyak manfaat yang bisa dirasakan oleh pasien terutama jaringan yang tertekan lama, anatara lain:
1. Memberikan kesempatan kepada daerah yang tertekan untuk reperfusi.
2. Memungkinkan evaporasi pada daerah yang tertekan sehingga suhu kulit daerah yang tertekan bisa diturunkan.
3. Menghindari akumulasi kelembaban antara kulit pasien dan permukaan tempat tidur.
4.  Bagi perawat reposisibisa digunakan untuk menginspeksi kulit yang tertekan sekaligus melakukan skin care yang diperlukan.

Berapa kali sebaiknya pasien yang beresiko decubitus untuk direposisi?
Berapa lama frekuensi yang terbaik untuk perubahan posisi masih belum diketahui dan kurangnya bukti-bukti riset yang menunjang (Moore & Cowman, 2009; Pieper, 2007) namun Cochrane review menyatakan bahwa durasi dua jam dalam satu posisi merupakan durasi maksimal yang direkomendasikan pada pasien dengan kapasitas sirkulasi yang normal (Moore & Cowman, 2009)

Terlepas dari polemik berapa jam frekuensi perubahan posisi, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam memutuskan berapa lama pasien sebaiknya direposisi, salah satunya adalah kondisi pasien secara umum, jangan sampai perubahan posisi justru memperburuk kondisi klinis pasien. Sebagai contoh pada pasien dengan  gangguan respirasi dan sirkulasi perubahan posisi yang sering mungkin akan berdampak pada status hemodinamik pasien oleh karena itu intensitas reposisi perlu mempertimbangkan stabilitas pasien.

Pada pasien yang menggunakan kasur anti decubitus masih perlukah dilakukan reposisi?
Perlu diketahui bahwa tidak ada kasur anti decubitus (support surface) yang benar-benar efektif mencegah decubitus. Oleh karena itu meskipun pasien telah menggunakan kasur anti decubitus perubahan posisi tetap diperlukan. Bedanya adalah durasi perubahan posisi antara pasien yang menggunakan kasur anti decuitus dan matras biasa. Deflor et al (2005) menemukan bahwa perubahan posisi setiap 4 jam pada visco-elastic foam matrass menurunkan resiko decubitus bila dibandingkan reposisi setiap 2-3 jam pada pasien yang menggunakan matrass biasa.

Pada dasarnya perubahan posisi bagian dari kebutuhan dasar manusia dan  Allah SWT telah mengisyaratkan perubahan posisi dalam Surah Ash-Habul Kahfi sebagai modalitas dalam pencegahan decubitus. Cuma sayangnya ada beberapa pasien yang tidak memiliki kemampuan untuk bergerak bebas secara mandiri. Oleh karena itu membantu pasien yang beresiko mengalami decubitus merupakan panggilan suara hati yang hanya bisa dilakukan oleh jiwa-jiwa yang amanah. Ayo ners show that you care…

2 komentar:

ivan kavalera mengatakan...

Situs bagus. Wah artikel-artikel menarik ternyata banyak di sini. Salam.

Saldy Yusuf, S.Kep.Ns.ETN. mengatakan...

@ Ivan, trims kunjungannya...salam hangat dari negeri sakura..