Jumat, 20 Mei 2011

PERUBAHAN POSISI UNTUK MENCEGAH DECUBITUS; SEJARAH




Secara umum perubahan posisi atau reposisi dipandang sebagai modalitas paling penting dan paling efektif dalam pencegahan decubitus (Defloor, T. 2000). Dengan melakukan perubahan posisi secara berkala maka beban tekanan pada daerah penonjolan tulang (bony prominiences) dapat diinterupsi untuk memberikan kesempatan pada jaringan untuk reperfusi dengan demikian proses perkembangan decubitus dapat diminimalkan.

Perubahan posisi sudah sangat lama dikenal sebagai modalitas penting dalam pencegahan decubitus. Robert graves (1976-1853) dalam bukunya Clinical Lctures on the Practice of Medicine (1848) menyebutkan bahwa decubitus dapat dicegah melalui perubahan posisi secara teratur.

Pada perang dunia ke II perubahan posisi setiap 2 jam telah diterapkan pada bangsal perawatan korban perang. Di bangsal ini dua orang serdadu ditugaskan untuk melakukan perubahan posisi pada seluruh pasien. Segera setelah pasien terakhir direposisi maka kedua serdadu tersebut kembali mereposisi pasien pertama dan seterusnya. Proses ini membutuhkan waktu sektiar 2 jam dari pasien pertama hingga pasien terakhir, legenda inilah mungkin yang mendasari bahwa perubahan posisi dilakukan setiap 2 jam. (Defloor, T. 2000).

Tahun 1955, Gutmann merekomendasikan reposisi seriap 2 jam bagi pasien dengan paraplegia. Kemudian berbagai rekomendasi seputar durasi reposisi diterbitkan, diantaranya rekomendasi dari AHCPR (1992) yang merekomendasikan reposisi setiap 2 jam dan Baker (1992) yang merekomendasikan setiap 3 jam. Sayangnya reposisi setiap 2 jam sangat menyita waktu perawat (nursing time) dan menjadi intervensi yang kurang nyaman bagi pasien sebab dapat mengganggu pola tidur.

Xakellis (1995) mengkalkulasi bahwa rata-rata dibutuhkan waktu sekitar 3,5 menit untuk merubah posisi satu pasien, dengan demikian untuk mereposisi 32 pasien pada satu bangsal dibutuhkan waktu 2 jam.

Menurut EPUAP-NPUAP 2009 tujuan utama reposisi adalah mendistribusikan tekanan baik dalam posisi duduk atau berbaring serta memberikan kenyamanan pada pasien. Namun menurut penulis sebenarnya tujuan ini kurang tepat. Ketika pasien berbaring dalam posisi supinasi maka tekanan terbesar berada pada daerah sacrum, kemudian ketika kita melakukan reposisi, misalnya pasien dimiringkan ke lateral kanan maka sebenarnya kita tidak mendistribusikan tekanan tapi memindahkan tekanan dari daerah sacrum ke daerah trochanter kanan.

Tidak ada komentar: