Tampilkan postingan dengan label eksudat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label eksudat. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 23 Oktober 2010

MITOS SEPUTAR EKSUDAT



Fase slough merupakan fase yang paling kritis dalam perawatan luka, sebab apabila eksudat bisa diatasi maka persiapan dasar luka atau wound bed preparation akan menjadi mudah. Sebaliknya manakala eksudat tidak ditangani dengan baik maka proses penyembuhan bisa menjadi stagnan atau malah bisa terjadi maserasi pada kulit sekitar luka yang tentunya akan menambah luas dimensi luka.
Dalam perawatan luka, eksudat sering dianggap sebagai something bad, padahal keberadaan eksudat merupakan hasil peperangan antara antibody terhadap antigen. Ada beberapa mitos seputar eksudat yang perlu diluruskan:

1.  Keberadaan eksudat sangat merugikan.
Meskipun kuantitas dan komposisi eksudat memiliki efek yang merugikan dan dapat menunda proses penyembuhan luka, teori lembab (moisture concept) dalam proses penyembuhan luka secara natural dapat diciptakan dengan keberadaan eksudat.

2. Peningkatan eksudat berhubungan dengan peningkatan jumlah bakteri atau kejadian infeksi.
Tidak selamanya peningkatan produksi eksudat diakibatkan oleh peningkatan kolonisasi bakteri dan kejadian infeksi local sebab beragam faktor menentukan produksi eksudat. Kegagalan venous return dalam venous ulcer tentunya meningkatkan produksi eksudat. Oleh karena itu faktor-faktor tersebut sebaiknya bisa diidentifikasi dan dicantumkan dalam rencana perawatan.

3.  Balutan lama merupakan sampah.
Balutan luka yang kotor jangan langsung dibuang, sebab balutan lama memberikan banyak informasi mengenai status eksudat dan kemampuan balutan untuk menyerap eksudat. Selain itu balutan lama juga memberikan informasi mengenai ketapatan pemilihan balutan dan efektifitas perawatan luka yang sebelumnya diberikan.

4. Semua yang anda butuhkan adalah bagaimana memilih balutan yang tepat untuk mengatasi masalah eksudat.
Pemilihan balutan merupakan aspek terpenting dalam manajemen eksudat. Meskipun demikian, pencegahan faktor-faktor yang berkontribusi dalam proses penyembuhan luka dan modifikasi lingkungan luka juga merupakan faktor penting yang kadang terabaikan.

5.  Semua yang anda butuhkan adalah mempertebal balutan luka.
Manajemen terbaik dalam penanganan eksudat tidak selamanya dengan cara mempertebal balutan tapi dengan melakukan pengkajian ulang terhadap status luka dan kondisi umum pasien sebagai bagian dalam strategi perencanaan untuk menghindari kebocoran dan memburuknya luka.
  
Bagaimanapun juga, eksudat merupakan sesuatu yang tidak bisa dihindari, bukan kesalahan pasien manakala luka bertambah bau, tapi justru menjadi indicator kualitas perawatan yang diberikan.


References:

1.         World Union of Wound Healing Societies (WUWHS). Principles of best practice: Wound exudate and the role of dressing. A consensus document.London: MEP Ltd. 2007

Minggu, 10 Oktober 2010

MEMBACA EKSUDAT

Saldy Yusuf, S.Kep.Ns.ETN


Keberadaan eksudat dalam proses penyembuhan luka merupakan peristiwa normal yang tidak bisa dihindari. Namun seringkali eksudat menimbulkan masalah tersendiri bila tidak dikelola dengan tepat. Bau, nyeri, kerusakan kulit sekitar luka, dan kebocoran balutan tentunya sangat mempengaruhi quality of life pasien serta menggambarkan bagaimana quality of care diterima. 

Oleh karena itu pemahaman akan fungsi, masalah, dan prinsip penanganan eksudat merupakan bagian integral dalam perawatan luka.

Definisi mengenai eksudat luka masih simpang siur. Beberapa praktisi mendefinisikan eksudat sebagai “sesuatu yang keluar dari luka”, “cairan luka”, “drainase luka” dan “kelebihan cari cairan normal”. Inkonsistensi definisi tersebut berdampak pada kegagalan dalam memandang makna eksudat secara menyeluruh. Saat ini pemahaman terhadap pengertian eksudat luka didasarkan pada pemahaman bahwa eksudat luka merupakan interaksi yang kompleks diantara factor-faktor berikut:
  • Etiologi luka.
  • Fisiologi penyembuhan luka.
  • Lingkungan luka.
  • Proses patologis pada luka.

Seringkali eksudat luka dianggap sebgai sesuatu yang “buruk”. Padahal dalam kenyataannya eksudat luka memiliki fungsi fisiologis dalam proses penyembuhan luka melalui beberapa mekanisme:
  • Mencegah kekeringan pada dasar luka.
  • Membantu migrasi sel-sel.
  • Menyediakan nutrisi esensial bagi metabolisme cellular.
  • Memungkinkan difusi immunity factors dan growth factors.
  • Membantu melepaskan jaringan mati (autolysis).


Meskipun demikian eksudat dapat menjadi sebuah masalah bagi pasien dan perawat ketika kuantitas produksi dan atau kualitas komposisi eksudat berdampak negatif dalam proses penyembuhan luka yang pada akhirnya menganggu proses penyembuhan luka, mnimbulkan gangguan fisik dan psikososial serta memperpanjang lama rawat.

Eksudat luka bukan hanya semata-mata cairan internal luka yang tidak berguna, namun merupakan alat komunikasi non verbal bagi luka untuk menyampaikan masalahnya kepada perawat. Oleh karena itu penggunaan masker dalam perawatan luka sebenarnya justru menghalangi perawat dalam menginterpretasikan bau eksudat yang ada dan menjadi barrier empati perawat terhadap pasien.

Memahami komposisi, sifat dan karakterisitk eksudat akan membantu perawat dalam menginterpretasikan masalah luka untuk mengambil keputusan yang tepat.