Senin, 29 Maret 2010

MODALITAS PENANGANAN VENOUS ULCER

Saldy Yusuf, S.Kep.Ns.ETN

Strategi utama dalam penatalaksanaan Insufisiensi Vena dan Hypertensi Vena (sebagai penyebab utama venous ulcer) adalah:

1.Terapi Kompressi (Compression Therapy).

Terapi kompresi merupakan suatu modalitas yang bertujuan untuk memberikan tekanan eksternal pada ekstrimitas bawah untuk memfasilitasi aliran balik vena. Modalitas ini telah digunakan sejak abad ke 17 (dalam bentuk stocking tali yang keras). Pada abad ke 21 terapi kompressi measih menjadi pilihan utama dalam manajemen venous ulcer (Cullum, et al 2003; Kantor and Margolis, 2003). Dan dapat pula diaplikasikan pada LEVD yang disertai dengan dermatitis akut dan cellulitis (WOCN Society, 2005a).

Mekanisme kerja terapi kompressi pada dasarnya adalah memberikan tekanan dari mata kaki ke lutut dan memberikan tekanan untuk mensuport calf muscle pump saat ambulasi dan dorsofleksi. Oleh karena itu terapi ini meningkatkan aliran balik vena. Sebagai tambahan terapi kompresi memberikan tekanan pada jaringan superficial sehingga meningkatkan tekanan interstisial sehingga mencegah kebocoran plasma yang pada akhirnya akan mengurangi edema.
Besar tekanan atau Level of Compression yang diberikan merupakan factor penting dalam terapi. Besar tekanan merupakan jumlah tekanan yang diberikan terhadap jaringan. Umumnya besar tekanan berkisar antara 20-60 mmHg pada mata kaki.

Tekanan sebesar 30-40 mmHg pada mata kaki biasa digunakan untuk venous ulcer. Tekanan sebesar ini dilaporkan efektif dalam mengontrol hypertensi vena dan mencegah pembentukan edema tungkai pada kebanyakan pasien dengan venous disease (de Arujo et al, 2003; Kunimot, 2001b; Paquette and Falanga, 2002; Phillips, 200).

2. Peninggian tungkai (Limb elevation).

Peninggian tungkai merupakan prosedur yang sangat sederhana namun sangat efektif dalam meningkatkan aliran balik vena dengan memanfaatkan gaya gravitasi. Modalitas ini sangat penting bagi pasien dengan venous ulcer bahkan esensisal bagi pasien dengan venous ulcer yang tidak dapat mentoleransi terapi kompressi. Pasien sebaiknya dianjurkan untuk meninggikan kakinya (lebih tinggi dari jantung) selama 1-2 jam, dua kali sehari (lebh baik sebelum tidur).

Selanjutnya pasien juga dianjurkan untuk menghindari berdiri lama atau duduk lama dengan posisi kaki menggantung (dependent). Bila harus berdiri atau duduk lama, maka sebaiknya disertai dengan “jalan-jalan ringan”. Untuk memastikan pasien melaksanakan modalitas ini dapat dibuatkan ‘leg-up chart’ dan dievaluasi setiap kunjungan (Kunimot, 2001b; Wipke-Tevis and Sae-Sia, 2004).

3. Prosedur Pembedahan (Surgical Procedure).

Intervensi pembedahan menjadi pilihan manakala pasien mengalami lipodermatosclerosis secara signifikan atau venous ulcer yang menetap atau berulang dengan kondisi patologi adanya incompetensi katup-katup vena. Namun menurut Anwar 2003 (bukan tetangga saya lho…) intervensi pembedahan menjadi kurang bermakna apabila telah terjadi obstruksi aliran balik ecara signifikan sebagai akibat dari syndrome postthrombotic.

Tidak ada komentar: