Sabtu, 30 Juli 2011

EVIDENCE BASE DALAM PERAWATAN LUKA DIABETIK; PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK

Tidak semua luka pada kaki adalah luka diabetes, untuk itu perlu menegakkan diagnosa untuk mendeterminasikan jenis luka yang adaa, apakah luka diabetik, arterial ulcer, venous ulcer, atau mixed ulcer.

Ada beberapa pendekatan yang bisa dilakukan dalam pengkajian dan diagnosa luka kaki diabetik, antara lain: 
  1. Pemeriksaan laboratoium, seperti; sedimentasi eritrosit dan C-reactive protein sebagai biological markers untuk proses infeksi dan inflamasi, HbA1C, profil lipid (cholesterol, HDL, LDL), prealbumin.  
  2. Pemeriksaan Neurologic seperti 10g Semmes-Weinstein monofilament. 
  3. Evaluasi vascular yang meliputi; Ankle Brachial Indexes (ABI), Toe Brachial Indexes (TBI), Skin Perfusion Indexes (SPP), dan Transcutaneous Oxygen Tension (TcPO2).
  4. Palpasi Nadi, yang meliputi; nadi femoral, nadi popliteal dan nadi pedalis.

American Diabetes Association (ADA) merekomendasikan Ankle Brachial Indexes (ABI) sebagai pemeriksaan kuantitatif untuk mengevaluasi status vascular. Namun karena pada pasien diabetes terjadi glycosolation atau calcification pada arteri tungkai bawah yang berakibat falsely high ankle pressure, maka pemeriksaan Toe Brachial Indexes (TBI) dapat menjadi alternatif, sayangnya pemeriksaan ini belum tersedia di  klinis dan memerlukan keahlian tersendiri. Adapun untuk pemeriksaan neuropati, 10g monofilament masih menjadi pilihan utama di klinis termasuk untuk mengidentifikasi resiko tingi terjadinya luka dan amputasi.

1.      Rekomendasi 1: Ankle Brachial Pressure Indexes
Nilai Ankle Brachial Indexes (ABI) > 1.3 memberi gambaran noncompressible arteries, nilai Toe Brachial Indexes (TOI) > 0.7 atau nilai TcPO2 > 40 mmHg mengindikasikan masih adekuatnya vascularisasi arteri. 

Evidence level I
Prinsip:          
Luka kaki diabetes dapat terjadi sebagai akibat dari insufisiensi arteri atau neuropati. Meskipun riwayat klinis dan pemeriksaan fisik dapat menjadi data pendukung adanya ischemic pada ekstrimitas bawah, namun dibutuhkan diagnose definitif.

2.      Rekomendasi 2: Monofilament Test
Keberadaan neuropati dapat ditentukan dengan menggunakan 10g Semmes–Weinstein monofilament test.  

Evidence Level II.
Prinsip:
Neuropati berdampak pada deformitas dan ulserasi pada kaki sebagai akibat abnormalnya distribusi tekanan terutama pada permukaan plantar. Neuropati saraf otonom meningkatkan resiko kerusakan kulit.

Tidak ada komentar: